Senin, 18 Desember 2017
Syalom aleikhem.
Perihal ini penting dicamkan agar umat Katolik tak tersesat: Jangan pernah menganggap Alkitab adalah satu-satunya sumber iman. Selain Alkitab, kita punya Tradisi Suci. Perilaku yang selalu mencari-cari ayat Alkitab untuk membuktikan suatu ajaran, itu keliru. Kadang suatu ajaran ada ayatnya dalam Alkitab, kadang ada “ayatnya” dalam Tradisi Suci, kadang ada dalam keduanya.
Alkitab Ada karena Tradisi
Alkitab ada karena Tradisi. Alkitab tak pernah akan ada di muka bumi kalau tak ada Tradisi. Ketika ajaran iman (Tradisi) dituliskan, belum ada Alkitab utuh seperti sekarang. Bagaimana terjadinya Alkitab? Beberapa pengikut ajaran Yesus Kristus menuliskan ajaran iman. Tulisan-tulisan (kitab-kitab) itu tersebar-sebar di mana-mana, belum terkumpul. Misalnya, kitab A ada di Roma, kitab B di Antiokhia, kitab C di Yerusalem. Yang memakai ya terbatas umat setempat.
Kebanyakan kitab-kitab itu tak bernama dan tak menyebut siapa penulisnya. Tak satu pun Injil punya nama kalau kita hanya berdasar atas ayat di dalamnya. Surat-surat? Ada yang punya nama, ada yang tidak. Jadi, bagaimana kita tahu bahwa Injil ini bernama Injil Matius dsb? Satu-satunya jawaban adalah Tradisi. Kita tahu ada Injil ini dan itu, ada surat ini dan itu karena Tradisi Suci menyatakannya.
Tradisi “Mengumpulkan” Alkitab
Lama-lama ada yang menyalin kitab-kitab itu, lalu mengirimkannya ke tempat-tempat lain. Akhirnya, kitab-kitab itu ada di berbagai tempat sekaligus. Namun, kitab-kitab itu belum dijilid dan belum diakui sebagai Alkitab secara resmi. Contoh: Umat daerah A menganggap Injil A itu bagian dari Alkitab, tapi umat daerah B tidak/belum menganggap demikian. Jadi sebenarnya, pada zaman Para Rasul dan setelahnya, Alkitab belum jelas isinya apa saja.
Sekarang kita punya Alkitab dengan isi yang jelas, waktu itu belum jelas. Siapa yang membuatnya jelas? Siapa yang menyatakan bahwa Alkitab Perjanjian Baru (PB) terdiri atas 27 kitab?Tradisi Suci. Jadi ada saat ketika Alkitab belum sepenuhnya dianggap sebagai Alkitab. Tradisi Sucilah yang akhirnya secara resmi menyatakan Alkitab sebagai Alkitab. Maksudnya, ada saat ketika Alkitab jadi Alkitab.
Mengapa demikian? Karena awalnya belum seluruh isi Alkitab dianggap sebagai Alkitab. Dari 27 kitab PB, pada zaman kuno, belum semua dianggap bagian dari Alkitab. Tradisi Sucilah yang menyatakannya untuk kita. Tradisi Sucilah yang mengajarkan bahwa Alkitab itu isinya A, B, C, dst. Itulah saat Alkitab jadi Alkitab. Jadi, Alkitab kita tak jatuh dari langit, melainkan ditetapkan oleh Tradisi Suci.
Rev. D. Y. Istimoer Bayu Ajie
Katkiter
Rabu, 20 Desember 2017 Syalom aleikhem. Riwayat berlanjut. Kaisar Konstantinus Agung dibaptis. Agama Kristen mendapat tempat di dalam masyarakat Romawi, juga di kalangan penguasa dan bangsawan. Karena sudah ada kebebasan beragama, masyarakat luas yang tertarik pada agama Kristen tak takut dibaptis. Jumlah umat pun melonjak tinggi. Romawi Menjadi Kristen Lagipula, Kaisar Theodotius, pengganti Konstantinus, juga bersimpati kepada agama Kristen. Ia mengeluarkan dekrit yang isinya: “Kristen menjadi agama resmi Kekaisaran Romawi.” Karena diangkat jadi agama resmi, pelan-pelan agama Kristen menggeser agama dewa-dewi Romawi. Dalam beberapa puluh tahun saja, hampir seluruh Romawi sudah menjadi Kristen. Setelah jadi agama negara, Kristen mendapat banyak kemudahan. Terjadilah persatuan antara agama dan negara. Gereja kini main kuasa sebab amat menyatu dengan negara. Gereja menikmati keuntungan dari persatuan itu. Banyak gedung gereja dibangun, fasilitas ibadat makin lengkap, basilika (gedun...