Senin, 27 November 2017
Syalom aleikhem.
Zaman Para Rasul (2.000-an tahun lalu), Injil tak berbentuk kitab (tulisan), melainkan kabar (lisan). Kabar baik. Yesus Kristus itulah kabar baik bagi dunia. Tulisan pertama dalam Perjanjian Baru (PB) ialah Surat Tesalonika I yang ditulis tahun 50-an M, 20 tahunan setelah Yesus Kristus naik ke surga. Injil yang pertama ditulis Injil Markus, tahun 70-an M. Kemudian barulah tulisan-tulisan lain. Setelah itu pun, belum ada kumpulan (bundel) yang disebut PB.
Karena keadaan itu, ajaran tentang Yesus Kristus tetap diajarkan lisan. Ajaran tertulis sudah ada, tapi tak menggeser kedudukan ajaran lisan. Para Rasul tetap mewartakan Yesus Kristus secara lisan. Ingat juga, tak semua Rasul menulis. Artinya, ajaran tertulis (yang nantinya dikumpulkan menjadi bundel PB) tak menggantikan ajaran lisan. Ajaran lisan tetap punya otoritas besar. Para Rasul mengajarkan begitu. Baca Injil Yohanes (Yoh. 20:30): “Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini.” Tentang Yesus Kristus tak semua tercatat (tertulis). Lagi (Yoh. 21:25): “Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, ….”
Jadi, ajaran lisan tetap punya wibawa besar dalam iman Kristen (ingat, Kristen bukan protestan! Katolik itu Kristen asli). Apa contoh ajaran lisan? Tata cara perayaan Ekaristi. Yesus Kristus mengajarkan agar semua murid-Nya merayakan Ekaristi. Ajaran itu dituliskan dalam PB. Namun, tata caranya tak dituliskan, melainkan ditemukan dalam ajaran lisan (dilaksanakan, dipraktikkan).
Alkitab & Tradisi Suci
Simak baik-baik kesaksian Rasul Yohanes (2Yoh. 1:12): “Sungguh pun banyak yang harus kutulis kepadamu, aku tidak mau melakukannya dengan kertas dan tinta, tetapi aku berharap… berbicara….” Juga ini (3Yoh. 1:13-14): “Banyak hal yang harus kutuliskan kepadamu, tetapi aku tidak mau menulis kepadamu dengan tinta dan pena. Aku harap… berbicara berhadapan muka.” Banyak hal harus dituliskan, namun Rasul Yohanes lebih mau berbicara (lisan) kepada Jemaat. Tulisan “tak lebih penting” dari pewartaan lisan. Itulah keadaan asli Gereja Kristus zaman Para Rasul.
Dengan tegas, Rasul Paulus memberikan nasihat kepada Jemaat (2Tes. 2:15). “Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis.” Ajaran tertulis itu Alkitab. Ajaran lisan disebut Tradisi Suci. Sampai hari ini keduanya masih ada! Tanpa ajaran lisan, ajaran tertulis “tak lengkap”. Alkitab harus bersama Tradisi Suci menjadi sumber iman Kristen. Alkitab tak (mungkin) sendirian.
Rev. D. Y. Istimoer Bayu Ajie
Katkiter
Rabu, 20 Desember 2017 Syalom aleikhem. Riwayat berlanjut. Kaisar Konstantinus Agung dibaptis. Agama Kristen mendapat tempat di dalam masyarakat Romawi, juga di kalangan penguasa dan bangsawan. Karena sudah ada kebebasan beragama, masyarakat luas yang tertarik pada agama Kristen tak takut dibaptis. Jumlah umat pun melonjak tinggi. Romawi Menjadi Kristen Lagipula, Kaisar Theodotius, pengganti Konstantinus, juga bersimpati kepada agama Kristen. Ia mengeluarkan dekrit yang isinya: “Kristen menjadi agama resmi Kekaisaran Romawi.” Karena diangkat jadi agama resmi, pelan-pelan agama Kristen menggeser agama dewa-dewi Romawi. Dalam beberapa puluh tahun saja, hampir seluruh Romawi sudah menjadi Kristen. Setelah jadi agama negara, Kristen mendapat banyak kemudahan. Terjadilah persatuan antara agama dan negara. Gereja kini main kuasa sebab amat menyatu dengan negara. Gereja menikmati keuntungan dari persatuan itu. Banyak gedung gereja dibangun, fasilitas ibadat makin lengkap, basilika (gedun...