Jumat, 24 November 2017
Syalom aleikhem.
Ada seorang Katolik rajin beribadah. Tak pernah ia datang telat Misa. Suatu kali ia berkunjung ke sebuah kota kecil. Di sana, ia telat di Misa; pertama kalinya. Sebelumnya, ia telah berjuang keras mencari gereja Katolik di kota itu. Apesnya, gereja di situ hanya punya satu jadwal Misa. Telat model ini “boleh”. Kepepet, darurat, tak akan diulangi.
Kalau telat rutin? Maaf, tak dibolehkan. Orang telat tentu saja tak dapat mengikuti perayaan secara penuh. Padahal, mengikuti Misa dari awal hingga akhir adalah amanat Konsili Vatikan II dalam Sacrosanctum Concilium (SC) no. 56: “Konsili Suci dengan sangat mengajak… agar umat beriman menghadiri seluruh Misa, terutama pada hari Minggu dan hari raya wajib.”
Apa artinya “menghadiri seluruh Misa”? Artinya, hadir sejak Ritus Pembuka yang diawali nyanyian masuk hingga Ritus Penutup yang diakhiri nyanyian keluar. Anda yang “suka telat rutin” perlu berpikir mulai hari ini: “Apa aku mau begini terus?” Kalau jawabannya “ya”, berpikirlah lagi: “Apa gunanya begini terus?” Telat Misa itu boleh kalau “kecelakaan”, artinya tak sengaja, darurat, sesekali. Kalau (terlampau) sering? Berpikirlah dan merenung bagaimana memperbaikinya.
Rev. D. Y. Istimoer Bayu Ajie
Katkiter
Rabu, 20 Desember 2017 Syalom aleikhem. Riwayat berlanjut. Kaisar Konstantinus Agung dibaptis. Agama Kristen mendapat tempat di dalam masyarakat Romawi, juga di kalangan penguasa dan bangsawan. Karena sudah ada kebebasan beragama, masyarakat luas yang tertarik pada agama Kristen tak takut dibaptis. Jumlah umat pun melonjak tinggi. Romawi Menjadi Kristen Lagipula, Kaisar Theodotius, pengganti Konstantinus, juga bersimpati kepada agama Kristen. Ia mengeluarkan dekrit yang isinya: “Kristen menjadi agama resmi Kekaisaran Romawi.” Karena diangkat jadi agama resmi, pelan-pelan agama Kristen menggeser agama dewa-dewi Romawi. Dalam beberapa puluh tahun saja, hampir seluruh Romawi sudah menjadi Kristen. Setelah jadi agama negara, Kristen mendapat banyak kemudahan. Terjadilah persatuan antara agama dan negara. Gereja kini main kuasa sebab amat menyatu dengan negara. Gereja menikmati keuntungan dari persatuan itu. Banyak gedung gereja dibangun, fasilitas ibadat makin lengkap, basilika (gedun...