Langsung ke konten utama

KatKit #14 LISAN LALU TULISAN

Senin, 20 November 2017 Syalom aleikhem. Tuhan Yesus tak pernah menyuruh Para Rasul menuliskan ajaran-Nya. Ia menyuruh Para Rasul mewartakan ajaran-Nya. Ajaran-Nya disebut Injil (bahasa Yunani: “euaggelion” artinya ‘kabar baik’). Injil itu awalnya bukan tertulis. Injil berupa kabar. Mengapa disebut baik? Isinya memang baik, yaitu tentang Firman Allah yang menjadi manusia, turun dari surga ke bumi, untuk membawa manusia kembali ke surga. Setelah Pentakosta, Para Rasul menyebarkan kisah tentang Tuhan Yesus. Belum ada Injil dalam bentuk buku. Tak ada satu Rasul pun yang membawa kitab Injil ke mana-mana. Kabar baik tersimpan dalam hati mereka lalu diwartakan. Apa artinya “diwartakan”? Diceritakan secara lisan. Ke mana-mana Para Rasul berbicara (lisan) kepada orang untuk mewartakan kabar baik (Kisah Para Rasul [Kis.] 3:11-26; 4:7-22; 8:26-39). Ajaran tentang Tuhan Yesus tersimpan baik dalam memori Para Rasul. Mereka mengajarkannya kepada orang. Dalam hal ini, Para Rasul dapat dipercaya sebab mereka mengalami Tuhan Yesus secara langsung. Mereka juga mendapat mandat dari Tuhan Yesus untuk mengajarkan apa yang diajarkan-Nya dan yang dilakukan-Nya. Contoh: Pada malam sebelum sengsara, Tuhan Yesus mengadakan perjamuan bersama Para Rasul. Perjamuan itu kini dikenal dengan nama “Ekaristi” atau “Misa”. Perjamuan itu disebut “Perjamuan Terakhir”. Ada mandat dari Tuhan: “Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” (bacalah Injil Lukas (Luk.) 22:14-23). Mandat itu dilakukan oleh Para Rasul. Ketika Tuhan Yesus sudah naik ke surga dan makin banyak pengikut ajaran-Nya, Para Rasul mengajarkan mandat tentang Perjamuan itu kepada semua pengikut ajaran Tuhan (yang selanjutnya disebut orang Kristen. Ingat, Kristen bukan protestan. Kristen itu dari kata “khristianos” artinya ‘pengikut Kristus’). Sungguh jelas bahwa semua ajaran Tuhan Yesus diajarkan secara lisan. Meskipun lisan, semua ajaran itu layak dipercaya sebab berasal dari sumber yang layak dipercaya, yaitu Para Rasul. Mereka itu sumber langsung, saksi mata kejadian, pendengar asli Sabda Yesus. Sebagian Dituliskan Di antara Para Rasul ada yang kemudian menuliskan Injil Tuhan, contohnya Rasul Matius dan Rasul Yohanes. Di antara orang Kristen generasi pertama (yang bukan Rasul) ada juga yang menuliskan Injil Tuhan, contohnya Markus dan Lukas. Lukas memberikan keterangan mengapa dia menuliskan Injil Tuhan (Luk. 1:1-4). Apa tujuan Lukas menulis? Agar kita tahu bahwa apa yang diajarkan kepada kita tentang Yesus Kristus itu benar (Luk. 1:4). Jadi, tulisan tentang ajaran Tuhan Yesus berguna untuk mengetahui bahwa itu semua benar. Tulisan itu tak pernah bermaksud “mencatat secara rinci” semua perkataan dan perbuatan Tuhan Yesus. Rev. D. Y. Istimoer Bayu Ajie Katkiter

Postingan populer dari blog ini

KatKit #7 DOA MASUK GEREJA

Jumat, 3 November 2017 Syalom aleikhem. Liturgi Katolik kaya akan tata gerak. Sayangnya, ada saja orang Katolik melakukannya kurang penghayatan. Contohnya, sebelum Misa, umat masuk gereja dengan mencelupkan tangan pada air suci lalu membuat Tanda Salib. Berapa yang melakukannya dengan benar? Benar artinya penuh penghayatan. Lihat sekeliling, ada saja yang membuatnya sambil lalu, sambil ngobrol, sambil cekakak-cekikik atau apa saja yang tak bermutu. Untuk mencegah itu, ada resep. Resep ini akan menjauhkan Anda dari hal-hal tak bermutu. Artinya, resep ini akan membuat Anda lebih khusyuk dan menghayati setiap gerak dalam gereja di setiap Misa. Apa resep? Begini: buatlah dan ucapkan dalam hati doa singkat yang menyertai gerak. Contoh, saat membuat Tanda Salib dengan air suci sewaktu masuk gereja, ucapkan dalam batin: “Tuhan, sucikanlah aku sebelum memasuki rumah-Mu.” Atau: “Tuhan, bersihkanlah aku agar layak menyembah-Mu.” Atau: “Tuhan, aku datang untuk beribadat kepada-Mu.” Karanglah ...

KatKit #21 Seri Katekismus RIWAYAT GEREJA KRISTUS Bagian I

Rabu, 6 Desember 2017 Syalom aleikhem. Istilah “Gereja” artinya kumpulan orang-orang yang beriman kepada Allah dengan perantaraan Yesus Kristus dalam persekutuan Roh Kudus; jadi bukan gedung. Umat beriman (Gereja) itu punya riwayat. [Dalam catatan ini, istilah “Gereja” dipakai bergantian dengan istilah “Kristen”. Di Indonesia, istilah “Kristen” disalahpahami. Dikira Kristen itu protestan, Katolik bukan Kristen. Ini keliru! Katolik itu Kristen yang asli. Kalau disebutkan Kristen di sini, itu berarti Gereja Katolik sejak mula-mula. Masa Gereja Awal (Tahun 30-an Masehi) Riwayat Gereja bermula dari Yesus Kristus. Ia berkarya di Palestina tiga tahunan, lalu disalib, mati, bangkit dari maut, dan naik ke surga (tahun 30-an Masehi). Sebelum naik ke surga, Yesus Kristus berpesan agar Para Rasul menyebarkan ajaran-Nya ke seluruh dunia (Mat. 28:19-20). Ajaran dan iman akan Yesus Kristus jadi cikal-bakal Gereja yang kelak disebut agama Kristen. Sebutan Kristen belum ada pada awal. Sebutan Kri...

KatKit #27 Seri Katekismus RIWAYAT GEREJA KRISTUS Bagian III

Rabu, 20 Desember 2017 Syalom aleikhem. Riwayat berlanjut. Kaisar Konstantinus Agung dibaptis. Agama Kristen mendapat tempat di dalam masyarakat Romawi, juga di kalangan penguasa dan bangsawan. Karena sudah ada kebebasan beragama, masyarakat luas yang tertarik pada agama Kristen tak takut dibaptis. Jumlah umat pun melonjak tinggi. Romawi Menjadi Kristen Lagipula, Kaisar Theodotius, pengganti Konstantinus, juga bersimpati kepada agama Kristen. Ia mengeluarkan dekrit yang isinya: “Kristen menjadi agama resmi Kekaisaran Romawi.” Karena diangkat jadi agama resmi, pelan-pelan agama Kristen menggeser agama dewa-dewi Romawi. Dalam beberapa puluh tahun saja, hampir seluruh Romawi sudah menjadi Kristen. Setelah jadi agama negara, Kristen mendapat banyak kemudahan. Terjadilah persatuan antara agama dan negara. Gereja kini main kuasa sebab amat menyatu dengan negara. Gereja menikmati keuntungan dari persatuan itu. Banyak gedung gereja dibangun, fasilitas ibadat makin lengkap, basilika (gedun...